Dari Napas yang Hampir Hilang, Aku Dipanggil Untung

Ada cerita yang selalu diceritakan ulang oleh keluargaku setiap kali membahas hari kelahiranku. Cerita itu bukan tentang tangisan bayi yang nyaring atau suasana bahagia di ruang persalinan. Sebaliknya, kisah itu dimulai dengan kepanikan, kesunyian, dan seseorang yang mengira hidupku sudah selesai bahkan sebelum benar-benar dimulai.

Saat aku lahir, aku tidak menangis.

Tubuh kecilku diam. Napasku tidak terdengar. Orang-orang di sekitar mengira aku sudah meninggal saat dilahirkan. Di masa itu, persalinan masih dibantu oleh seorang dukun beranak di kampung. Tidak ada alat medis canggih, tidak ada monitor detak jantung, tidak ada dokter berjaga. Hanya pengalaman, naluri, dan keberanian.

Belakangan diketahui bahwa saluran pernapasanku tertutup air ketuban. Aku tidak bisa bernapas.

Saat itu semua orang panik, termasuk ayahku. Suasana rumah berubah tegang dan penuh kecemasan. Untuk membantu menghangatkan tubuh kecilku yang dingin dan tak bergerak, ayahku menyalakan lampu petromax. Cahaya terang dari lampu itu menerangi ruangan sederhana tempat aku dilahirkan, sekaligus menjadi saksi perjuangan antara hidup dan mati pada malam itu.

Dalam situasi genting itu, sang dukun beranak bertindak cepat. Dengan cara sederhana namun penuh keberanian, ia langsung menyedot lendir dan air ketuban dari hidungku menggunakan mulutnya sendiri. Tindakan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi saat itu menjadi pembatas antara hidup dan mati.

Beberapa saat kemudian, keajaiban kecil itu terjadi.

Aku mulai menunjukkan tanda kehidupan.

Tangisan pertamaku akhirnya terdengar. Tangisan yang mungkin terdengar biasa bagi banyak orang, tetapi bagi keluargaku, itu adalah suara paling melegakan yang pernah ada. Dari bayi yang sempat dinyatakan meninggal, aku kembali mendapatkan kesempatan hidup.

Karena itulah aku dipanggil “Untung”.

Nama itu bukan sekadar panggilan. Ia menjadi pengingat bahwa hidupku dimulai dari keberuntungan, pertolongan, dan kesempatan kedua. Ada doa, harapan, dan rasa syukur yang melekat di dalamnya.

Semakin dewasa, aku semakin memahami bahwa kisah kelahiranku bukan hanya cerita dramatis untuk dikenang. Ia mengajarkanku sesuatu: hidup adalah hadiah yang kadang datang setelah perjuangan yang bahkan belum kita sadari.

Mungkin sejak hari pertama aku sudah diajarkan bahwa bertahan hidup bukan perkara mudah. Bahwa kadang seseorang bisa kembali dari titik yang nyaris tak mungkin. Dan bahwa manusia lain, dengan ketulusan dan keberaniannya, bisa menjadi alasan seseorang tetap hidup.

Aku tidak mengingat momen itu, tentu saja. Tetapi jejaknya hidup dalam cerita keluarga, dalam nama panggilanku, dan mungkin juga dalam caraku memandang kehidupan hari ini.

Aku adalah bayi yang sempat dianggap pergi sebelum benar-benar datang.

Namun hidup ternyata masih memilihku.

Dan sejak saat itu, mereka memanggilku: Untung.