Derigen Air di Sungai Besar

Masa kecil di kampung selalu punya cerita sederhana yang sulit dilupakan. Tidak ada permainan mahal, tidak ada wahana modern, tetapi kebahagiaan terasa begitu dekat. Salah satunya adalah kenangan berenang bersama teman-teman di sungai besar dekat kampung.

Setiap sore, ketika matahari mulai turun dan angin dari air terasa lebih sejuk, kami beramai-ramai menuju sungai. Sungai itu sangat luas bagi ukuran anak kecil seperti kami. Airnya membentang panjang, kadang terlihat tenang di permukaan, tetapi menyimpan arus yang kuat di bagian tengah.

Kami tidak punya pelampung sungguhan. Sebagai gantinya, kami membawa derigen air kosong. Derigen itu kami peluk sambil berenang agar tubuh tetap mengapung. Bagi kami, benda sederhana itu sudah cukup untuk menjelajah sungai besar seperti petualang kecil yang tidak mengenal takut.

Awalnya kami bermain di tepian. Tetapi semakin lama, keberanian kami tumbuh. Sedikit demi sedikit kami berenang semakin jauh ke tengah sungai. Dari sana, tepian mulai terlihat kecil. Rumah-rumah penduduk tampak samar, dan pelabuhan kayu di kejauhan hanya terlihat seperti titik kecil di pinggir air.

Kami tertawa keras di tengah sungai, saling berlomba siapa yang paling jauh berenang. Air memercik ke wajah, derigen bergoyang mengikuti ombak kecil, dan matahari sore memantul di permukaan sungai seperti serpihan cahaya emas.

Lalu dari kejauhan terdengar suara nenek memanggil.

Suara itu datang dari arah pelabuhan.

“Pulang! Jangan jauh-jauh!”

Saya menoleh dan melihat nenek berdiri di ujung pelabuhan kecil sambil melambaikan tangan. Meski jaraknya jauh, saya bisa merasakan kepanikan di wajahnya. Beliau terus memanggil agar kami segera kembali ke tepian.

Nenek takut kami tenggelam.

Beliau juga takut ada buaya di sungai besar itu.

Di kampung, sungai bukan hanya tempat bermain. Sungai juga bagian dari alam liar yang harus dihormati. Kadang terdengar cerita tentang buaya yang muncul di dekat pelabuhan atau terlihat berenang saat air sedang pasang. Cerita-cerita itu membuat orang tua selalu waspada ketika anak-anak bermain terlalu jauh.

Tetapi saat kecil, rasa takut seperti kalah oleh rasa senang. Kami merasa derigen kosong itu sudah cukup untuk menaklukkan luasnya sungai. Padahal sekarang saya sadar, kami hanyalah anak-anak kecil yang terlalu berani.

Kini, kenangan tentang sungai besar itu terasa begitu hidup di kepala saya. Tentang air yang luas, suara tawa teman-teman, derigen air yang menjadi pelampung seadanya, dan suara nenek yang memanggil dari kejauhan penuh rasa cemas.

Kadang saya rindu masa-masa itu.

Masa ketika kebahagiaan sesederhana berenang di sungai besar sampai lupa waktu, lalu pulang setelah mendengar suara nenek memanggil dari pelabuhan.