Ada hal-hal sederhana yang selalu berhasil membawa kita pulang ke masa kecil. Bukan lewat foto lama atau cerita orang tua, tapi lewat rasa—dan bagi saya, salah satunya adalah sirup rasa jeruk/Limus
Setiap bulan Ramadan, botol sirup berwarna oranye cerah itu selalu muncul di meja makan. Tapi bukan di rumah kami—melainkan di dapur rumah nenek. Dapur itu sederhana, seluruhnya terbuat dari kayu, dengan lantai papan yang sedikit berderit setiap kali diinjak. Dindingnya juga dari kayu tua yang menyimpan aroma khas—perpaduan antara asap dapur, bumbu masakan, dan waktu yang sudah lama berlalu.
Menjelang azan maghrib, suasana dapur mulai terasa hangat, bukan hanya karena masakan yang mengepul, tapi juga karena kebersamaan yang berkumpul di dalamnya. Nenek, ibu, dan anggota keluarga lain sibuk dengan peran masing-masing. Sementara saya, seperti biasa, duduk di sudut dapur, mengamati segalanya dengan penuh rasa tidak sabar.
Di atas meja kayu panjang yang sudah penuh goresan usia, gelas-gelas kaca berjajar rapi. Sirup rasa jeruk yang kami sebut Limus mulai dituangkan, bercampur dengan air dingin. Saat itu kami belum memiliki kulkas, jadi es batu bukan sesuatu yang selalu tersedia. Jika ingin minuman dingin, kami harus membelinya di rumah seorang toke tionghoa di kampung—mungkin hanya beliau satu-satunya orang saat itu yang memiliki kulkas. Perjalanan kecil untuk membeli es batu itu justru menjadi bagian dari kenangan: membawa pulang potongan es yang dibungkus seadanya, lalu buru-buru sampai sebelum mencair.
Ketika es batu akhirnya dimasukkan ke dalam gelas, bunyinya beradu pelan dengan dinding kaca—suara kecil yang terasa begitu berharga, seolah menandakan bahwa momen berbuka sudah semakin dekat. Cahaya matahari sore yang masuk dari sela-sela dinding kayu membuat warna oranye sirup itu terlihat semakin menggoda.
Sebagai anak kecil, momen berbuka puasa bukan hanya soal melepas lapar dan haus. Itu adalah momen penuh antisipasi. Duduk di dapur kayu nenek, mendengarkan suara panci, percikan minyak, dan obrolan keluarga, sambil sesekali melirik gelas sirup jeruk yang sudah menunggu.
Tegukan pertama selalu terasa istimewa. Manis, segar, dan sedikit asam yang pas—seolah menjadi hadiah setelah seharian menahan diri. Tapi lebih dari sekadar rasa, ada kehangatan yang ikut mengalir. Tawa kecil, cerita-cerita sederhana, dan rasa kebersamaan yang kini terasa begitu berharga.
Seiring waktu, banyak hal berubah. Dapur kayu itu mungkin sudah tak seramai dulu, atau bahkan telah berubah bentuk. Kita tumbuh dewasa, jadwal semakin padat, dan momen berbuka puasa tidak selalu bisa dinikmati bersama keluarga seperti dulu. Namun, setiap kali mencicipi sirup ABC rasa jeruk, kenangan itu seperti diputar ulang. Kita kembali duduk di dapur nenek, mendengar lantai kayu berderit, dan menunggu azan dengan penuh harap.
Mungkin, pada akhirnya, bukan sirupnya yang membuat momen itu begitu berkesan. Tapi tempat, suasana, dan orang-orang yang mengisi ruang itu. Dapur kayu nenek, dengan segala kesederhanaannya, menjadi saksi bahwa kebahagiaan seringkali hadir dalam bentuk yang paling sederhana—bahkan dari segelas sirup dingin yang es batunya dulu harus diperjuangkan.
Jadi, jika suatu hari kamu menuangkan segelas sirup jeruk saat berbuka, coba berhenti sejenak. Rasakan, dan biarkan kenangan itu kembali. Siapa tahu, kamu juga akan menemukan potongan kecil dari masa kecilmu—di dapur sederhana, penuh cerita, seperti milik nenek.


