Ada masa di mana hiburan paling mewah di kampung kami bukanlah handphone atau internet cepat, melainkan sebuah televisi dengan antena parabola besar yang berdiri di rumah tetangga. Rumah itu seperti pusat dunia kecil bagi anak-anak seusia kami. Setiap sore, kami akan berkumpul di sana dengan penuh semangat, berharap bisa menonton acara favorit sebelum malam tiba.
Dulu, tidak semua rumah memiliki televisi, apalagi TV satelit dengan banyak channel luar negeri. Karena itu, rumah tetangga yang memiliki parabola terasa begitu istimewa. Dari sanalah kami pertama kali mengenal Cartoon Network, melihat kartun-kartun lucu yang rasanya berbeda sekali dibanding tayangan biasa. Selain itu, ada juga tayangan favorit di RCTI seperti Satria Baja Hitam yang selalu membuat kami bersemangat menirukan gaya jagoannya sepulang menonton.
Kadang-kadang ruang tamunya sudah penuh oleh anak-anak. Ada yang duduk di lantai, ada yang berdiri di belakang, bahkan ada juga yang rela naik lewat jendela hanya supaya tetap bisa ikut menonton. Saya sendiri pernah beberapa kali memanjat jendela bersama teman-teman hanya demi mendapatkan posisi terbaik melihat layar televisi. Rasanya lucu jika diingat sekarang, tetapi saat itu semua terasa sangat menyenangkan.
Yang paling saya ingat bukan hanya acaranya, melainkan kebaikan tetangga tersebut. Mereka selalu mempersilakan kami masuk dan menonton bersama, walaupun rumahnya jadi ramai oleh suara anak-anak kecil. Tidak semua orang mau seramah itu. Mereka memahami bahwa bagi kami, menonton TV di rumah mereka adalah kebahagiaan sederhana yang sangat berarti.
Namun tentu ada aturan yang harus dihormati. Saat waktu senja atau magrib tiba, kadang kami tidak diizinkan masuk dulu. Waktu itu kami sering merasa kecewa, padahal sekarang saya sadar mungkin mereka sedang sibuk mengurus rumah, menyiapkan makan malam, atau ingin beristirahat sejenak bersama keluarga. Meski begitu, setelah suasana lebih tenang, biasanya kami kembali diperbolehkan menonton lagi.
Masa kecil memang sederhana. Tidak ada media sosial, tidak ada game online, dan tidak ada layar pribadi di tangan masing-masing. Tetapi justru karena keterbatasan itu, kami belajar tentang kebersamaan. Kami tertawa bersama, menunggu acara favorit bersama, bahkan berebut tempat duduk bersama. Semua terasa hangat dan penuh cerita.
Kini zaman sudah berubah. Hampir setiap orang bisa menonton apa saja dari ponsel mereka sendiri. Namun, kenangan duduk berdesakan di rumah tetangga sambil menonton Cartoon Network atau Satria Baja Hitam tetap menjadi bagian indah yang sulit tergantikan. Dari sana saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, kebahagiaan hadir dari sebuah televisi kecil, teman-teman masa kecil, dan tetangga baik hati yang membuka pintu rumahnya untuk kami semua.


