Menyusuri Jalan Ilalang Menuju Kuburan Tua

Ada kenangan masa kecil yang selalu datang menjelang Ramadan atau Idul Fitri. Kenangan itu bukan tentang baju baru, kue lebaran, atau petasan di malam takbiran. Yang paling membekas justru perjalanan sederhana bersama nenek menuju kuburan tua di kampung.

Setiap kali bulan puasa hampir tiba, nenek selalu mengajak saya pergi berziarah ke makam orang tuanya. Pagi itu biasanya terasa lebih tenang dari hari-hari biasa. Udara masih dingin, embun belum sepenuhnya hilang dari ujung rumput, dan langit kampung tampak pucat kebiruan. Saya yang masih kecil hanya mengikuti langkah nenek tanpa banyak bertanya.

Kami berjalan menyusuri jalan raya kecil yang sepi. Di pinggir jalan tumbuh rumput ilalang tinggi yang bergoyang tertiup angin. Sesekali suara burung terdengar dari kejauhan, bercampur dengan bunyi sandal kami yang menyentuh tanah dan bebatuan kecil. Jalan itu seperti lorong panjang menuju masa lalu, membawa kami pada kenangan yang bahkan belum sempat saya pahami waktu itu.

Namun sebelum sampai ke kuburan, nenek selalu mampir terlebih dahulu ke rumah imam surau. Rumah kayu sederhana itu berdiri tidak jauh dari surau kecil kampung. Imam surau sudah seperti menunggu kedatangan kami. Setelah berbincang sebentar, beliau pun ikut berjalan bersama kami menuju pemakaman.

Jadi hanya kami bertiga saja — nenek, saya, dan imam surau.

Perjalanan setelah itu terasa lebih hening. Saya menggenggam tangan nenek sambil sesekali melihat ilalang yang lebih tinggi dari tubuh saya. Kuburan tua itu berada agak masuk ke dalam, dikelilingi pohon-pohon besar dan rumput liar yang tumbuh tidak beraturan. Beberapa batu nisan sudah miring dimakan usia. Ada kesan sunyi, tetapi bukan sunyi yang menakutkan. Lebih seperti sunyi yang penuh penghormatan.

Nenek mulai membersihkan makam dengan perlahan. Rumput dicabut satu per satu, daun-daun kering disingkirkan. Saya membantu sebisanya, meski kadang hanya memindahkan ranting kecil atau membersihkan tanah dengan tangan mungil saya. Imam surau kemudian duduk di dekat makam dan mulai membaca doa dengan suara pelan dan tenang.

Angin bergerak lembut di sela ilalang ketika doa-doa itu dibacakan. Saya tidak benar-benar mengerti makna semua bacaan saat itu, tetapi suasananya terasa sangat dalam. Ada rasa damai yang sulit dijelaskan oleh anak kecil seperti saya waktu itu.

Kini setelah dewasa, saya baru memahami bahwa perjalanan itu bukan sekadar membersihkan makam. Nenek sedang mengajarkan tentang ingatan, tentang menghormati orang yang telah lebih dulu pergi, dan tentang menjaga hubungan dengan akar keluarga meski waktu terus berjalan.

Di tengah dunia yang semakin sibuk, kenangan berjalan bertiga melewati jalan kecil berilalang itu terasa begitu berharga. Ada kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Dan setiap kali Ramadan atau Idul Fitri datang lagi, bayangan tentang nenek, imam surau, dan kuburan tua itu selalu hadir diam-diam di dalam ingatan saya.