HARUSNYA Teluk Bayur yang jadi ibu kota Berau. Bukan Tanjung Redeb. Apa alasannya sampai ada pernyataan demikian?

Sederhana saja, bahwa Teluk Bayur lebih dulu punya infrastruktur yang lengkap. Itu karena kesibukan pertambangan batu bara oleh perusahaan Belanda  pada tahun 1912. Ada tulisan pada Landmark di bagian barat lapangan bola ‘Steinkollen 1912’.

Bayangkan, Teluk Bayur yang penduduknya hanya sedikit, hasil tambangnya mampu menembus hingga ke negeri Belanda. Untungnya saat itu, perusahaan penambangan melakukan kegiatan tambang tertutup. Tidak seperti penggalian sekarang, yang menjadikan lahan sebagai lubang yang menganga.

Berbagai fasilitas dibangun, untuk dinikmati para pekerjanya. Juga bagi masyarakat Teluk Bayur. Di saat layanan listrik Tanjung Redeb yang belum baik, Teluk Bayur sudah terang benderang. Di saat sepak bola di Tanjung Redeb belum maju, di lapangan bola Teluk Bayur, klub besar Belanda Ajax Amsterdam bisa merumput di sana. Begitupun dengan fasilitas air bersihnya. Banyak nilai lebih yang dimiliki Teluk Bayur yang hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari Tanjung Redeb.

Bukti kehadiran sebuah perusahaan Belanda yang ramah lingkungan, bisa disaksikan hingga sekarang. Walaupun sebagian sudah rusak, hilang, dan bahkan telah berubah bentuk. Begitupun nama perkampungan dan nama jalan yang diabadikan oleh masyarakat.

Di tempat berbukit yang pemandangannya ke arah Sungai Segah, di situ masih ada bangunan yang namanya rumah bola. Di tempat inilah, karyawan dari manajemen Steinkollen menikmati akhir pekan. Konstruksi bangunan yang kuat dan desain yang tidak tertelan oleh waktu. Pernah ada rencana dijadikan Museum Batu Bara, tapi sepertinya tidak jadi.

Sumber : https://berau.prokal.co/read/news/65106-rumah-bola-steinkollen-hingga-gado-gado-teluk-bayur.html